KASUS DBD NAIK, JANGAN PANIK

Oleh : Ns. Fauzan Saputra, S.Kep., MNS

Sebagai salah satu negara Tropis, Indonesia masih harus berjuang mengendalikan penyakit-penyakit yang berkembang cepat terkait perubahan cuaca. Salah satu penyakit yang cukup mengkhawatirkan masyarakat yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD). Biasanya, angka kesakitan akibat DBD lebih sering dilaporkan pada musim hujan, tetapi saat ini, kasus DBD juga ditemukan pada musim panas, sehingga angkanya cenderung meningkat, bahkan puluhan pasien DBD dilaporkan meninggal dunia. Dibutuhkan berbagai upaya untuk mengendalikan perkembangan penyakit yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti tersebut.

Salah satu upaya paling efektif mengendalikan DBD, yaitu dengan mengikuti siklus hidup nyamuk, mulai dari telur, jentik, pupa, dan nyamuk dewasa. Pilihan pengendalian nyamuknya pun beragam, mulai dari yang praktis tetapi mahal dan berisiko bagi kesehatan, sampai yang efektif tetapi murah dan aman bagi kesehatan. Masyarakat harus dapat memilih dengan bijak, cara apa yang paling tepat untuk mengendalikan siklus hidup nyamuk Aedes Aegypti di wilayahnya masing-masing. Sehingga, tidak perlu panik bila kasus DBD tiba-tiba naik.

Pilihan yang praktis tetapi mahal dan berisiko bagi kesehatan yaitu, dengan menggunakan bahan kimia, yaitu penggunaan bubuk Abate yang ditaburkan pada wadah penampungan air. Bubuk Abate dapat membunuh jentik nyamuk yang butuh waktu 12-14 hari untuk berkembang menjadi nyamuk dewasa. Penggunaan bubuk Abate hanya untuk wadah penampungan air mandi, tidak untuk air minum karena dikhawatirkan dapat berdampak bagi kesehatan. Selain itu, cara lain yang menjadi favorit masyarakat yaitu Fogging. Fogging merupakan tindakan pengasapan yang dilakukan dengan melarutkan Malation ke dalam Solar. Fogging hanya ampuh membunuh nyamuk dewasa dan lebih baik dilakukan pada jam 09.00-10.00 pagi atau 15.00-16.00 sesuai dengan “jam kerja” nyamuk Aedes. Selain pada jam tersebut, fogging menjadi kurang efektif dan berbahaya bagi kesehatan, terutama bila terhirup asap fogging ataupun asap yang mengendap pada pakaian dan kain gorden dan makanan yang tidak ditutup.

Pilihan efektif tetapi murah dan aman bagi kesehatan, yaitu dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), yaitu dengan melakukan 3M plus, yaitu Menguras bak mandi dan tempat penampungan air, Menutup tempat penampungan air, Mengubur barang-barang bekas yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Tindakan “plus” dalam pengendalian nyamuk Aedes Aegypti yaitu, dengan memelihara ikan pemakan jentik, memakai lotion atau minyak telon anti nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, dan memantau tempat-tempat yang berisiko bersarangnya nyamuk, seperti dispenser, kulkas, dan AC. Bahkan, baju bekas pakai jangan digantung di kamar lebih dari 3 hari, karena nyamuk senang dengan bau keringat manusia.

Tindakan PSN ini efektif dan murah karena fokus pengendalian nyamuk dilakukan pada tempat perindukan nyamuk. Dengan kata lain, kita membasmi nyamuk saat menjadi jentik, sehingga diharapkan nyamuk tidak sempat berkembang menjadi nyamuk dewasa. Karena sesaat setelah dewasa, sistem reproduksi nyamuk langsung matang dan dapat langsung bertelur kembali bila terjadi pembuahan. Selain itu, tindakan PSN dapat langsung dilakukan sendiri oleh masyarakat di rumah masing-masing, tanpa harus mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli bahan kimia tertentu.

Keikutsertaan masyarakat dalam melakukan tindakan PSN sangat diharapkan, agar kita dapat mengendalikan siklus hidup nyamuk Aedes Aegypti, sehingga angka kesakitan dan kematian akibat penyakit DBD dapat diturunkan. Kepedulian Geuchik, Tuha Peut, Tuha Lapan, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Wanita, dan Tokoh Pemuda diyakini dapat menjadi motor untuk mengaktifkan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam melakukan tindakan PSN dan gotong royong membersihkan lingkungan sekitar, baik di dalam maupun luar rumah. Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe tetap berupaya memberikan kontribusi terbaik dalam upaya pengendalian penyakit DBD di kota Lhokseumawe, antara lain seperti survey epidemiologi, penyuluhan, dan sosialisasi tentang pelaksanaan PSN, fogging fokus, dan pemberian bubuk abate. Seperti kata pepatah, “Mencegah lebih baik daripada mengobati” maka, “PSN lebih baik daripada fogging”.